Ingin Jadi Dokter (Bagian Pertama)

Menjadi seorang dokter adalah mimpiku sejak menduduki bangku kelas 4 SD Ooshimizu. Pertama kali aku terinspirasi untuk menjadi dokter adalah saat aku yang berumur 8 tahun diperiksa di himawari klinik, toreaju oleh dareka sensei. Dareka sesei adalah dokter spesialis anak yang bagi kami dia adalah dokter yang tulus dan baik hati. Saat sakit, aku diperiksa dengan penuh kelembutan. Saat diperiksa, aku merasa tenang dan lega. Saat itu lah aku berkeinginan untuk menjadi dokter yang dapat membuat pasien tenang dan tidak takut.

Suatu hari di kelas 4 atau 5 SD, senseitachi membuat video yang berisi setiap anak berbicara tentang “yume” masing-masing. Lucu, ada yang ingin jadi polisi, pattisier, dokter, dan lain-lain. Di video itu aku dengan bangga bilang bahwa aku ingin jadi dokter anak, “watashi wa shounika ni naritaidesu!” ucapku begitu saat itu. Video itu pun dimasukkan ke CD dan dibagikan ke semua orang tua murid. Aku ingat saat itu aku mendapat pujian dari banyak orang tua murid, “Syakura-chan erai nee.” Sebetulnya aku tidak paham kenapa dipuji waktu itu.

Beranjak ke SMP, kalau ada yang bertanya aku ingin menjadi apa saat besar nanti, aku menjawab ingin menjadi dokter, masih sama seperti dulu. Menjadi dokter bukanlah mimpi yang jarang, banyak orang bermimpi ingin jadi dokter. Sampai kadang-kadang ada beberapa guru yang mencoba mematahkan semangat kami dengan berkata “kenapa sih setiap orang mimpinya dokter mulu! Gak ada yang lain apa? Pengen banget ya dipuji hebat? Profesi lain juga bagus-bagus, lho! Jadi guru coba! Lebih mulia!” mungkin tidak seprti itu mereka berkata tapi di telingaku terdengar seperti itu. Aku gak paham kenapa beberapa orang dewasa mengkritik profesi dokter seperti itu. Mereka seolah tidak suka dengan citra dokter yang pada umumnya mulia. Padahal, kalau orang tulus ingin menjadi dokter, mereka tidak akan mencari pujian atau pride tersebut, mereka hanya ingin bisa menolong orang yang kesusahan, bukan? Lagipula kemuliaan itu kan tergantung orangnya, bukan profesi.

Pada tahun 2014, aku memasuki SMA di Jakarta Timur. Sekolah itu berisi manusia-manusia yang sangat pintar, bisa dibilang aku masuk ke sana lewat jalur doa, bagaikan miracle aku masuk ke sana. Kalau ada ulangan harian atau UAS, aku hampir selalu remedial dan peringkatku selalu di tengah-tengah, kanawanai wa sama mereka. Pelaar SMA tentu perlu menemukan cita-cita yang ia inginkan karena mereka akan mengambil penjurusan dan sebagainya. Sebaiknya penjurusan itu berhubungan dengan jurusan yang akan diambil saat kuliah nanti.

Saat menjadi sophomore, tiba-tiba kepercayaan diriku akan menjadi dokter hilang. Aku mendadak ragu akan cita-citaku selama ini. Aku mulai curiga jangan-jangan keinginan menjadi dokter hanyalah mimpi sempit yang tercipta saat SD, aku juga khawatir bagaimana jika nanti aku gak mampu bertahan di kedokteran. Banyak sekali yang memberi tahu kalau menjadi dokter itu butuh perjuangan yang luar biasa, mereka mesti belajar seumur hidup. Bukan hanya susah mausk kuliah kedokteran, tapi bertahan di sananya pun susah, katanya begitu. Mendengar itu semua, aku mulai takut dan pusing.

Suatu saat aku berkunjung ke Indonesia International Institute of Life Science (i3L) untuk mengikuti suatu lomba. Di sana aku melihat banyak bidang yang masih berbau kimia dan biologi, namun bukan dokter. Seiring waktu berjalan, ketidakinginan aku untuk mengorbankan waktu dan tenaga demi menjadi dokter semakin menjadi. Maka akuk  pun berpikir untuk mencar tahu lebih dalam tentang bidang pendidikan yang mempelajari anatomi tubuh (sesuai passion) tapi tidak berhubungan langsung dengan manusia sepeerti dokter. Di i3L itulah aku menemukan jurusan biomedicine yang sesuai dengan peminatanku.

Sepulang dari lomba i3L, aku beri tahu orang tua aku bahwa aku tidak lagi ingin menjadi dokter. Ibu dengan santai menerima pilihanku namun sepertinya ayah tidak puas. Bukan apa-apa, alasan ayah ingin aku menjadi dokter adalah selain karena dapat menolong banyak orang, ayah tidak ingin aku bekerja di satu perusahaan, ia tidak suka aku bekerja di bawah seseorang. Walau mengerti alasan ayah, aku tetap mengotot ingin mengambil biomedicine.

Beberapa hari kemudian, kami bersilaturahmi ke rumah saudara di Cibubur. Keluarga itu adalah keluarga dokter, keluarga yang terdiri dari pasangan dokter umum dan dokter jendral dan dua dari tiga anak yang sedang menempuh pendidikan dokter di FKUI.

Sambil berbincang-bincang, om membawa topik mengenai ke jurusan mana aku ingin mengambil kuliah. Ayah memberi tahu kalau sekarang aku ingin mengambil biomedicine, bukan dokter. Ayah menyertakan alasan aku ingin menjadi peneliti di bidang biomedicine yang dapat membuat obat-obat baru. Mendengar alasan itu, om menganjurkan aku tetap menjadi dokter karena biasanya yang memimpin penelitian seperti itu adalah dokter juga, lebih baik sekalian menjadi dokter daripada mengambil jurusan itu katanya.

Mendengar penjelasan itu, saat di jalan pulang aku menjadi stress, penuh pikiran tentang jurusan apa yang sebaiknya aku ambil, sebaiknya aku ambil pilihan dokter atau tidak. Melihat aku yang stress, ibu menyarankanku untuk sholat istikhrah. Beberapa waktu kemuian, aku sholat istikharah dan meminta Allah untuk memantapkan hati.

                                                            – bersambung –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s